LAMBANG DAN TANDA ANGGOTA

Scooter Motor Kolot (SEMOK) mempunyai lambang utama berbentuk kelelawar

Vespa di hati Scooterist

Walau sepeda motor model baru terus bermunculan, Vespa tetap memiliki pangsa pasar tersendiri. Penggemarnya tetap bangga dan tak pernah merasa ketinggalan zaman

Vespa di hati Scooterist

Banyak dari mereka (para anak vespa) yang masih mempunyai aktivitas yg sesungguhnya seperti menjadi mahasiswa, menjadi seorang guru, karyawan bahkan seorang artis. Jadi pada dasarnya mereka menjadi seorang anak vespa bukan atas dasar tidak mempunyai pekerjaan, namum lebih kepada hati mereka

Vespa 150

salah satu varian scooter produksi Piaggio, terbilang cukup mencuri perhatian para scooterist di seluruh dunia. Dengan penampilan awal yang hampir menyerupai Vespa Grand Lux, Vespa 150 Sprint hadir seakan ingin melanjutkan semangat kebebasan generasi 1960?an kepada genarasi 1970?an dalam hal berkendaraan scooter tanpa harus kehilangan sentuhan stylish namun tangguh.

Semangat Kebersamaan

KEBERSAMAAN di dalam komunitas Semok inilah tidak perlu disangsikan lagi. Hal ini tak hanya berlaku di klub kami saja. Namun dimanapun kami berada dan berpapasan dengan club lainnya, dengan cepatnya kami dapat berbaur

Ladies Scooter

Walau sepeda motor model baru terus bermunculan, Vespa tetap memiliki pangsa pasar tersendiri. Penggemarnya tetap bangga dan tak pernah merasa ketinggalan zaman

Pemberdayaan Anggota

Tak hanya nongkrong dan gathering bersama komunitas lain saja, disini kami bisa belajar mengembangkan diri apa yang kami bisa kami tuangkan kreativitas anggota satu sama lain

Sejarah Vespa


Asal Mula


Sejarah vespa dimulai lebih dari seabad silam, tepatnya 1884. Perusahaan Piaggio didirikan di Genoa, Italia pada tahun 1884 oleh Rinaldo Piaggio. Bisnis Rinaldo dimulai peralatan kapal. Tapi di akhir abad, Piaggio juga memproduksi Rel Kereta, Gerbong Kereta, body Truck, Mesin dan Kereta api. Pada Perang Dunia I, perusahaannya memproduksi Pesawat Terbang dan Kapal Laut. Pada tahun 1917 Piaggio membeli pabrik baru di Pisa dan 4 tahun kemudian Rinaldo mengambil alih sebuah pabrik kecil di Pontedera di daerah Tuscany Italia. Pabrik di Pontedera inilah yang mana menjadi Pusat produksi pesawat terbang beserta komponen-komponennya (baling-baling, Mesin dan Pesawat) Selama Perang Dunia II, pabrik di Pontedera membuat P108 untuk mesin Pesawat dua penumpang dan Versi Pembom.


Lahir Kembali


Pada akhir Perang Dunia II, pabrik Piaggio dibom oleh pesawat sekutu. Setelah perang usai, Enrico Piaggio mengambil alih Piaggio dari ayahnya (Rinaldo Piaggio). Pada saat itu perekonomian Italia sedang memburuk, Enrico memutuskan untuk mendisain alat transportasi yang murah. Enrico memutuskan untuk fokuskan perhatian perusahaannya pada masalah personal Mobility yg dibutuhkan masyarakat Italia. Kemudian bergabunglah Corradino D’Ascanio, Insinyur bidang penerbangan yang berbakat yang merancang, mengkonsep dan menerbangkan Helikopter Modern Pertamanya Piaggio. D’Ascanio membuat rancangan yang simple,ekonomis, nyaman dan juga elegan. D’Ascanio memimpikan sebuah revolusi kendaraan baru. Dengan mengambil gambaran dari tehnologi pesawat terbang, dia membayangkan sebuah kendaraan yang dibangun dengan sebuah “Monocoque” atau Unibody Steel Chassis. Garpu depan seperti Ban mendarat sebuah pesawat yang mana mudah untuk penggantian ban. Hasilnya sebuah design yg terinspirasi dari pesawat yang yang sampai saat ini berbeda dengan kendaraan yang lain.


Maka pada 1945, konstruksi alternatif tersebut ditemukan. Awalnya memang sebuah konsep sepeda motor berkerangka besi dengan lekuk membulat bagai terowong. Mengejutkan, ternyata bagian staternya dirancang dengan menggunakan komponen bom dan rodanya diambil dari roda pesawat tempur.


Guna mengoptimalkan bentuk dan keamanan penggunanya, pabrikan yang kala itu masih terbilang sebagai usaha ''kaki lima'' merancang papan penutup kaki pada bagian depan. Proyek ini langsung dipimpin oleh Corradino d'Ascanio. Karena itu, hak paten pun segera dapat mereka kantongi.


Hasilnya, muncullah pertama kali produk motor dengan seri MP5. Kendaraan ini berteknologi sederhana tetapi punya bentuk yang amat menarik, bagai binatang penyengat (lebah/tawon) karena bentuk kerangkanya.


Namun, karena bentuk penutup pengaman yang bagai papan selancar itu, sejumlah pekerja di pabrik Piaggio pun bahkan mengatakannya sebagai motor Paperino. Harap diingat, Paperino adalah sindiran sinis untuk tokoh Donald Duck (bebek). Maka, d'Ascanio pun putar akal untuk memperbaiki model tersebut.


D’ascanio hanya membutuhkan beberapa hari untuk mengonsep ulang bentuk desain kendaraannya dan prototipnya diberi nama MP6. Saat Enrico Piaggio melihat protototip MP6 itu, ia secara tak sengaja berseru “Sambra Una Vespa” (terlihat seperti Tawon). Akhirnya dari seruan tak sengaja itu, diputuskan kendaraan ini dinamakan ‘Vespa’ (tawon dalam bahasa Indonesia). Pada April 1946, prototip MP6 ini mulai diproduksi masal di pabrik Piaggio di Pontedera, Italia.


Pada Akhir 1949, telah di produksi 35000 unit dan dalam 10 tahun telah memproduksi 1 Juta unit dan pada pertengahan tahun 1950. Selama tahun 1960-an dan 1970-an Vespa menjadi simbol dari revolusi gagasan pada waktu itu.


Perkembangan selanjutnya, produk ini ternyata laris diserap pasar Prancis, Inggris, Belgia, Spanyol, Brazil, dan India -- selain di pasar domestik produk ini laku bagai kacang goreng. Selain itu, India pun memproduksi jenis dan bentuk yang sama dengan mengambil mesin Bajaj. Jenisnya adalah Bajaj Deluxe dan Bajaj Super. Sejumlah pihak lantas mengajukan lamaran untuk joint membuat Vespa. Maka pada 1950 munculah Vespa 125 cc buatan Jerman.


Pada saat itu banyak negara lain yang mencoba membuat produk serupa, tetapi ternyata mereka tak sedikit pun mampu menyaingi Piaggio. Di antara pesaing itu adalah Lambretta, Heinkel, Zundapp, dan NSU. Bagi masyarakat Indonesia, produk Lambretta dan Zundapp, sempat populer di era 1960-an.


Selidik punya selidik, fanatisme terhadap Vespa ternyata muncul akibat ciri dasar bentuk motor ini yang selalu dipertahankan pada setiap produk berikutnya. Bahkan saat mereka terbilang melakukan ''revolusi'' bentuk pada produk baru, Vespa 150 GS, kekhasan pantat bahenol masih terasa melekat.


Produk 150 GS -- kala itu dikenal sebagai Vespamore dan hampir selalu tampil di tiap film tahun 1960-an -- memang kemudi dan lampu sorotnya mulai dibuat menyatu. Tetapi, secara keseluruhan apalagi bentuk pantatnya, benar-benar masih membulat. Dan cerita terus berlanjut saat ini dengan model generasi baru Vespa, mempersembahkan Vespa ET2, Vespa ET4, Vespa Granturismo dan Vespa PX150. Vespa bukan hanya sekedar Scooter tapi salah satu Icon besar orang Italia.


Sejarah Vespa di Indonesia


“Demam Vespa” di tanah air sangat di pengaruhi oleh “Vespa Congo”. Vespa diberikan sebagai Penghargaan oleh Pemerintah Indonesiaterhadap Pasukan Penjaga Perdamaian Indonesia yang bertugas di Congosaat itu.


Menurut beberapa narasumber, setelah banyak Vespa Congo berkeliaran di jalanan, mulailah Vespa menjadi salah satu pilihan kendaraan roda dua di Indonesia. Importir lokal turut mendukung perkembangan Vespa di tanah air.


Sampai saat ini sudah puluhan varian Vespa yang mampir di Indonesia. Dari yang paling tua hingga yang paling baru ada di Indonesia. Sampai saat ini Indonesia mungkin masih bisa disebut sebagai surganya Vespa. Maraknya ekspor Vespa, sedikit banyak mengurangi populasi Vespa di Indonesia.


M Fadli, Cinta Pertama Sang Juara Ada di Vespa


Jakarta - Tak ada yang tidak mengenal M. Fadli, pembalap motor yang baru saja mendapat gelar anyar, juara nasional kelas Supersport di Tanah Air.

Baginya, karier gemilang yang diraihnya sekarang tak bisa lepas dari ‘si semok’ yang pernah mengantarnya mengenal dunia balap.

“Sejak kecil, tepatnya masih duduk di bangku sekolah dasar, ya tahunya hanya Vespa,” jelas Fadli.

Makanya, scooter asal Italia ini punya kenangan cukup manis hingga sekarang. Bila sekarang bisa mengoleksi hingga 6 unit Vespa dengan embel-embel berkelas, ini lantaran melanjutkan hobi yang sudah lama tertunda.

Kesibukan sebagai seorang pembalap motor, menuntutnya untuk selalu fokus dengan tunggangan. “Namun, Vespa saya selalu ikut ke mana-mana di dalam ponsel,” kekeh pria asli Betawi ini.

Sejak Bangku SD

Perkenalannya dengan Vespa memang sudah terjalin sejak masih bocah. Pada waktu itu, mulai dari orang tua, pakde hingga kakek memiliki Vespa sebagai tunggangan sehari-hari. Tak heran bila scooter semok ini langsung mendapat hati.

“Tak jarang diajak kakek berbonceng­an naik Vespa keliling kota,” kenangnya saat masih SD. Lama-lama, jatuh hatinya tak bisa terbendung sampai akhirnya memiliki Vespa pertamanya saat duduk di kelas 6 bangku sekolah dasar. “Ini juga hasil menabung selama 2 tahun dengan menyisihkan uang jajan,” ujarnya.


Sebuah Vespa Super keluaran 1974 berkelir biru berhasil diboyong ke rumah setelah menebus seharga Rp 300 ribu. Hasrat untuk menggeluti Vespa semakin menjadi sampai akhirnya Fadli berani untuk ngoprek dan bongkar-pasang Super kesayangannya.

Buatnya, me­ngoprek Vespa itu merupakan seni tersendiri yang tidak bisa dibeli dengan uang. Bahkan, siapa pun tak ada yang berani mengganggu bila melihat Fadli sedang utak-atik Vespa kesayangan.

Hanya saja, hobi ini kudu rela dibendung cukup lama karena kesibukannya di dunia balap yang memang menyita waktu.

Baru 3 tahun belakangan ini, kembali gencar berburu Vespa berkelas setelah Fadli makin jago mengatur waktu antara profesi dan hobi.

“Untungnya banyak teman-teman lama baik dari komunitas Vespa hingga konco sesama pembalap memberi banyak masukan serta support bila ada incaran seputar Vespa,” terang Fadli.

Ibarat gayung bersambut, di mana pun Fadli berada, informasi mengenai Vespa baik scooter hingga apparel-nya tak pernah putus. Itu juga yang membuat pembalap asli Cibinong, Jawa Barat ini seakan mendapat kekuatan dalam bertempur di lintasan balap. Bisa dibayangkan, aktivitas balap dengan moge dan motor-motor canggih, sementara Vespa di rumah jarang tersentuh belaian tangannya.

Hingga sekarang, Fadli sudah punya 6 buah Vespa dengan aneka ragam jenis dan tipe. Uniknya lagi, masing-masing tipe memiliki tema atau karakter tersendiri.

“Ada yang buat kebut-kebutan, ada juga yang tampil full orisinal dan bahkan ada yang hampir tidak pernah dipakai,” ungkapnya bersemangat. Meski begitu, semua koleksinya terawat dengan sangat baik di rumahnya, Jl. Raya Bogor, Cibinong, Jawa Barat.

Kalau sudah selesai balap atau musim kompetisi sudah usai, inilah saatnya Fadli melupakan tunggangan ekstrem untuk melahap lintasan balap dan kembali melirik ke-6 Vespa miliknya. Dari 6 buah koleksinya, Vespa keluaran 1964 yang baru saja didapat belum lama ini, tergolong istimewa.

“Kondisinya 100% orisinal pabrik alias tak ada yang berubah sejak keluar showroom 64 tahun yang lalu,” bisiknya bangga. Bahkan ban serep saja masih merek Pirelli yang jadi standar Vespa 1964 di Italia.

Tak kalah seru adalah Vespa produksi 1970 yang juga termasuk istimewa karena orisinalitas yang tinggi. Meski didapat secara second hand, Vespa yang satu ini tak pernah jalan sejak 1991.

“Tetapi sekarang mulai dipakai untuk sekadar memanaskan mesin dan memutar laher-laher roda,” ujar Fadli. Berbeda dengan Vespa Excell dan Exclusive II yang merupakan varian modern.


Masih mencari varian langka dan aneh untuk koleksi
Excell yang dibangun rapi sesuai spek pabrik dijadikan sebagai tunggangan sehari-hari. Karena suku cadangnya masih bisa didapat, makanya semua parts saya buat baru semua.

Sama halnya dengan Exclusive II berwarna putih yang juga hasil ‘membangun’. Bedanya, semok putih ini lebih dikenal pada malam hari. Maksudnya, Vespa andalan Fadli yang satu ini hanya beroperasi malam hari saat ada lomba.

“Memang spesifikasi sudah dibuat full tuning dengan komponen gado-gado, makanya kenceng enggak ketulungan,” kekehnya.

Terakhir dicoba ngetrek dengan Suzuki Satria FU 150 full bored-up dan stroker. Bisa dibayangkan, gimana rasanya kalau dipakai untuk harian, sebab bahan bakarnya saja hanya bisa menggunakan avigas alias bensol. Makanya, Fadli membuat satu lagi Vespa full modifikasi mesin pada tipe PTS 50.

Komponen seperti blok mesin, magnet hingga knalpot semuanya import dari Italia tetapi sifatnya plug n play. Performa bisa naik drastis dari aslinya tanpa harus bikin pusing kepala, tak seperti Vespa Exclusive II yang memang sudah bubut sana-sini.

Paling terakhir adalah Vespa Sprint keluaran 1976 yang punya embel-embel limited edition. Nggak tahu kenapa, di sini Vespa Sprint ini tergolong langka.

Perbedaan nyata bisa dilihat dari fisik setang dan lampu utama yang terlihat lebih besar dari Vespa Sprint biasa. “Istilah anak-anak Vespa adalah Sprint Kepala Bagol,” urai Fadli yang memang klotokan.

Saking susahnya Vespa seperti ini, harga setang dan lampu utama bisa menyamai harga sebuah scooter Vespa Sprint versi lampu kecil alias Sprint biasa. Tak puas hanya sampai di situ, Fadli masih berniat untuk mencari produk yang tergolong aneh atau langka.

Masih ada beberapa incaran yang masih belum didapat pembalap yang mengawali karir di balap Vespa di Kemayoran pada awal 2000-an ini. Padahal di rumah sudah ada 14 motor termasuk Vespanya tadi. Tapi dasar nggak bisa ke lain hati, tetap saja Vespanya yang mendapat prioritas utama saat Fadli berada di rumah. (motorplus.otomotifnet.com)

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites